Main ke Racing Workshop

August 1st, 2008 by ramadita

Tanggal merah kemarin saya ceritanya mengantarkan teman yang mau merestorasi Cololla DX. Setelah pekan lalu survey keliling ke beberapa bengkel, kami diskusi sejenak dan sepakat untuk ketemu hari itu di bengkel yang ditentukan.

Sekilas bengkel tersebut terlihat biasa saja, sama seperti bengkel-bengkel pinggiran lainnya. Berdinding seng dan beralaskan tanah. Sederhana. Tapi pas kita masuk ke dalam, hmm…pandangan saya berubah. Sebuah sedan putih Nissan 200 seri Z 1983, mirip dengan AE86 (hachiroku), lampu depan model flip-top. Diseberangnya ada Toyota GT Coupe warna beige, rally racing style, lengkap dengan spion tanduknya. Taksiran saya mobil ini keluaran tahun 1980. Lebih ke dalam lagi, saya menemukan Totota Celica GT, Datsun Violet tahun 70-an, Corolla DX, Mitsubishi Lancer, Datsun "Pek-Ji-Way" 120-Y Coupe, dan semuanya berada dalam aroma racing car.

Mata saya tertuju pada gelondongan engine yang bertaburan di dekat "sofa" dan wooow…Nissan SR20DET, 4AGE-BlackTop, mantap-mantap…dan yang jarang saya liat Mazda rotary engine 12 B, juga 13 B (carburretor). Saya jadi berkhayal, kayak apa ya rasanya punggung didorong 200 horsepower?? Pastinya melesat cepat & nikmat banget:)

Saya masuk ke dalam, tampak sesosok tubuh tinggi besar dengan wajah ramah menyambut kedatangan kami. Dialah si empunya bengkel. Ketika kami memulai pembicaraan ada laki-laki putih berkacamata masuk sambil menenteng propeller shaft. Sementara teman saya berkonsultasi dengan si empunya bengkel, saya penasaran sama mobil si laki-laki tersebut dan saya tanya, "Mobilnya kenapa Mas?". Dia menjawab, "Ini, gandarnya (propeller shaft) "kena", kemaren saya di tol, speedometer mentok di 180km/jam, pulang-pulang gandar oblak." Walah, sinting nih orang, 180km/jam?? kayak main NFS (Need For Speed) dong. Saya tanya lagi, "Emang pake mobil apaan Mas?". Dia jawab lagi, "Tuh DX biru yang diluar(maksudnya Corolla DX)." Sambil beranjak keluar bengkel saya tanya lagi, "Mana Mas?" Dia berjalan mengikuti saya dari belakang sambil menujukkan mobilnya.

Sesampai didepan mobil biru, tanpa diminta, diapun langsung membuka kap mesinnya. Pas dibuka, jreeeng….engine 4AGE Blacktop nongkrong disitu. Yaah..pantes aja bisa tembus 180km/jam. Tapi yang paling sinting, dia jalan segitu dengan bawa istri dan dua anak-anaknya yang masih kecil. Dia bilang, anak-anaknya senang ngebut kayak gitu. Saya jadi mikir, jangan-jangan ini (ganti mesin ini) disuruh istrinya:)

Dari situ saya bisa sedikit ambil kesimpulan, rebuilt a classic car memang nggak gampang, apalagi kalo suka racing style, stage 1 atau stage 2 modification. Aspek-aspek engine, transmission, brake, clutch dan safety harus diperhatikan serius. Untuk kasus di atas, saya concern masalah rem. Rem harus ganti yang hi-performance juga, lha kan mesinnya juga "gila". Lalu craddle bar/roll bar dan safety belt, just in case ada trouble, driver dan penumpang masih bisa selamat. Untuk hal seperti ini saya lebih mengedepankan rasio daripada emosi. Mungkin kalo mau nge-test mesin, nggak perlu juga digeber sampe 180km/jam, apalagi bawa semua anggota keluarga.

Dulu waktu masih "muda" memang saya pernah bawa Honda Civic di jalan tol Merak sampe 180km/jam, masih stabil. Tapi sedikit di atas itu, turbulensi udara membuat bodi jadi tidak stabil. Intinya, BAHAYA!! (buat sendiri & buat orang lain) Kalo mau balapan, di sirkuit aja.

Eniwei, main ke bengkel itu gw koq jadi ngiler kebut2an yah:) Just wondering, punya Charmant ‘86 dengan engine 4AGE SilverTop….bruuum….brruuummm….nggak perlu mewah, yang penting sing kuenceng:)

A Jeep Story: Tuning C240 Engine

March 11th, 2008 by ramadita

Sudah hampir 6 tahun Jeep CJ7 menemani aktifitas keseharian saya. Nggak kerasa. Jeep keluaran 1981 ini merupakan ex-dum Departemen Kesehatan dan saya dapat dalam kondisi “stock” alias standar kecuali beberapa hal. Pada mobil ini saya temukan power steering AMC yang juga dipakai saudara mudanya, Jeep Cherokee. Lalu sumbu “axles” depan dan belakang yang model lebar sehingga mobil terlihat lebih “ngangkang”. Selebihnya standar abis. Dapur pacunya, engine standar Diesel C240 yang dilengkapi dengan transmisi AMC T4 Borg-Warner.

Banyak orang (red:anak jeep) males dengan Jeep diesel karena tarikannya yang “loyo”. Padahal itu nggak sepenuhnya benar. Dengan sedikit modifikasi pada engine, dijamin mobil Jeep Diesel masih bisa ngacir ninggalin mobil-mobil yang lebih muda. Beberapa perubahan yang saya lakukan adalah mengganti injection pump, mengganti nozzles dan “membuang” priming pump.

Engine C240 pada Jeep diesel itu sama persis dengan engine yang dipakai di Forklift Komatsu (saya pernah kerja di PT.United Tractors). Kalau kita perhatikan sekilas fisiknya mirip dengan engine C223 milik Isuzu Panther. Headnya memang sama persis dan interchangable. Perbedaan urama terletak pada panjang “stroke” dan crankshaft-nya. Engine C240 memiliki langkah yang lebih panjang dan “bandul” kruk as yang lebih besar, merupakan ciri khas heavyduty engine “mesin pekerja”. Dengan konstruksi yang sedemikian rupa engine lebih “balanced” dan torsi maksimal bisa diraih pada putaran yang rendah.

Sayangnya engine ini masih menggunakan inline injection pump sehingga irit banget sampe-sampe mobil jadi nggak ada tenaganya alias loyo. Mensiasati kondisi tersebut, saya mengganti injection pump-nya dengan yang model rotary (tidak merubah konstruksi, tinggal pasang). Saya beli dulu masih murah, kalu sekarang harga pasaran sekitar Rp 2-2,5 juta. Lalu nozzles injeksi pun saya ganti dengan yang lebih tinggi tekanannya, sehingga pengabutan solar jadi lebih baik. Hasilnya terikan lebih enteng. Apalagi gigi final drive yang kasar membuat mobil terasa mau loncat ketika gas “dibejek”. Nah kalau sudah begini, konsumsi BBM pasti akan bertambah (sedikit) karena anda pasti akan lebih doyan nginjek gas.

Jembatan TEKSAS

September 7th, 2007 by ramadita

Jembatan TEKSAS, jembatan ini ada di danau antara teknik UI to sastra. Gue udah pajang gambarnya di photo FS. Cool!!. Apalagi kalo malam, mantap pemandangannya. Ditambah tata cahaya yang well planned, serasa dimana gitu. Memang, secara fungsi ini jembatan motong jalan lebih singkat dari teknik ke sastra. Tapi siapa ya yang bakal sering jalan-jalan lewat situ?? Bukannya anak UI sekarang tajir-tajir?? pake mobil semua?? Apa dalam rangka perjodohan anak teknik dengan sastra??….hehehe…mulai lagi deh…"makar-mania".

Kalo dulu, pas baru-baru MABIM (OSPEK, pen.) senior-senior gw di Mesin (Teknik Mesin maksudnya) bilang, "woi!!lo pada maen tuh ke sastra…fisip….banyak ceweknya tuh." Maklum…di Mesin memang sangat-sangat langka kaum hawa. Apalagi angkatan 98…full Adam. Mangkanya anak-anak mesin waktu itu identik dengan gondrong, dekil, kuliah pake sendal jepit, jins, oblong, kadang kuliah nggak mandi (yang ini gue nggak ikutan) dan paling rame kalo cewek lewat (nah yang ini gue nggak ikutan juga), "suit…suit….cewek?!…cewek?!…". Lah…pantes aja cewek pada seneng…eh takut…apa takut tapi seneng??!(karena ada yang godain, tapi orangnya serem2).

Geli juga ingat tingkah polah anak-anak waktu itu. Kami di Mesin punya gokart satu. Nah itu barang dibawa ke sastra. Muter-muter di PSJ….masuk ke Kansas (Kantin Sastra)…nah yang bawa itu pastinya jomblowan. Kalo gue sih memang gak betah di Kansas, lantaran banyak Ansas (Anjing Sastra). Galak-galak!!…Wuihh serem…ngeri dikejar!! Beda sama Anjas (Anjing Asrama) yang sudah lebih bersahabat.

Secara fisik, sekarang UI udah jauh berubah,anak-anaknya juga berubah. Nggak ada lagi nongkrong2 di kontainer ngutak-ngatik mobil, gokart. Atau main hovercravt di aspal…wuihh ini asyik betul lho…cuma "skirt" hovie jadi pada cepet bolong…atau main ke Situ Gintung. Hovie naik trailer, digeret pake Land Rover…lalu pinjam touring/kayak-nya KAPA…seru pastinya.

Kalo gue liat, anak-anak sekarang udah asyik dengan tugas-tugas dan gadget-nya masing-masing. Mentang-mentang di kampus udah ada Wi-Fi kali yah. Jadi nggak ada mainan-mainan kayak dulu lagi. Tapi as long they still positive…sah-sah aje. Memang setiap generasi punya keunikan sendiri-sendiri…sepertinya sudah nature-nya begitu. Nah!! jadi siapa yang dapat anak sastra??!! Just kid….

Kalo you mampir ke UI Depok, gue kira poto-poto di Jembatan TEKSAS bisa jadi sarana represing yang menyenangkan. Apalagi dengan istri tercinta dan anak-anak. Peace ah!! (Kayak si Alam aje)

Revolusi?

July 18th, 2007 by ramadita

Terpaku sejenak di pojok ruangan, Ramli menyeka wajah kuyunya. Setelan necis ala salesman masih melekat menemani walau sore itu parfum Bvlgari sudah tidak semerbak lagi. Pandangan kosongnya mengarah ke telepon yang sejak pagi berdering hampir tanpa henti. Otaknya berfikir keras, cara apa lagi yang akan dilakukan untuk tetap menang dalam lelang besar-besaran di Jawa Tengah. Jenuh dalam posisi duduk, akhirnya ia pun bangkit dari kursi sambil melangkah untuk meraih gagang telepon dan memutar sebuah nomor. Nomor mitranya di

Jakarta

.

“Halo, Assalamu’alaikum Pak Arbi”

“Wa’alaikumsalam Pak Ramli, bgmana kabar project kita? Sudah pengumuman kah?” tanya mitranya itu dengan

gaya

yang santai.

“Wah, gawat Pak!! Tadi siang saya ketemu Dokter Basalamah dari tim pembelian, yang mau beli alat kita, dengan nada kecewa Pak Dokter cerita sama saya apa yang terjadi antara dia dan PPTK (pejabat pembuat komitmen, pen.)” Ramli menjawab dengan nada penuh kecemasan.

Ramli mulai bercerita kepada Arbi, mitranya. RKS (rencana kerja, pen.) memang sudah ditanda-tangani oleh panitia lelang. Spesifikasi alat yang diinginkan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena dokter Basalamah sebagai user mamang ingin sesuatu yang baru, alat rancangan dan produksi Arbi. Akan tetapi proses tidak berjalan mulus, di tengah jalan PPTK (pejabat pembuat komitmen, pen.) ingin mengubah RKS yang ada dengan menyuap seluruh panitia, termasuk dokter agar setuju dengan spesifikasi alat yang diusulkannya. Alat buatan USA dengan merek GE (General Electric) yang harganya selangit. Beruntung Ramli, Dokter Basalamah masih punya sedikit idealisme. Dia mau menolak tegas usulan dari PPTK dengan satu syarat, Ramli harus melobi perusahaan Arbi untuk bisa menyaingi spesifikasi alat buatan GE.

” Oooo begitu Pak ceritanya.” Jawab Arbi yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama uraian Ramli. ” Arbi pun melanjutkan, ”Begini deh Pak, kasih saya waktu satu hari untuk berfikir, kebetulan saya sudah mampu buat mesin kontrol microprocessor 8 bit seperti GE, yang buat alat saya model tahun depan. Untuk menyaingi spek GE saat ini saya pikir sangat mungkin sekali, namun harganya pasti akan naik.”

”Harga ndak masalah Pak, yang penting bisa setara GE”, jawab Ramli meyakinkan.

”Ok Pak, jangan khawatir, insya Allah bisa, Bapak tenang saja. Besok pagi Bapak saya kontak lagi, Assalamu’alaikum!” Arbi menutup pembicaraan.

Cuplikan fiksi di atas merupakan potret suram birokrasi dan administrasi di republik ini. Walaupun sudah ada KPK, para birokrat masih berani juga cari celah. Saya pun kadang agak bingung menghadapi para birokrat. Inginnya setiap saya meeting dengan birokrat atau pejabat, saya selalu bawa perekam suara. Play Safe dan selalu waspada.

Kalo mau maju, indonesia perlu revolusi sekali lagi. Revolusi Jiwa!! Sehingga yang miskin bisa bangkit, punya semangat juang karena ada harapan untuk maju. Sementara itu yang kaya mengasihi yang miskin, sepenuh hati, bukan cuma 2,5%. Memang hidup bukan untuk dunia saja seperti bahasa sebagian orang, ”menikmati hidup”. Saya kira akan lebih tepat jika istilahnya ditambahkan menjadi, ”menikmati hidup dengan benar.” Ini bukan utopia belaka, saya yakin kita bisa. Bisa maju. Bisa lebih baik lagi.

Workshop Cinta

June 13th, 2007 by ramadita

Sabtu pekan lalu, selepas ta’lim pagi, dengan tas ransel di punggung, motorcycle langsung saya tancap gas menuju Istora Senayan. Cuaca cukup cerah hari itu sehingga saya tidak perlu bawa perlengkapan anti hujan. Cukup blue jins plus polo shirt merah ati, tidak lupa spatu kets dan black hat. Sesuai dengan niatnya yang mau rileks, santai-santai sambil cari (diskon-an) beberapa buku yang sudah lama diincar. Bukan hanya itu, sebetulnya saya juga pingin lihat acara “temu penulis dan launching novel” karya Habiburrahman El Shirazi. Tahun lalu saya pernah ikut juga di acara yang sama dengan moderator Mbak Ratih Sanggarwati untuk novel Ayat-Ayat Cinta. Waktu itu kebetulan pulang dari acara Walimatul Ursy-nya Mega (FE’98) di masjid Al Bina Senayan. Di acara seperti tersebut, penulis menjelaskan maksud dan tujuan dari karyanya dengan prolog lisan (red:pengantar). Ust.Habib atau biasa disapa Kang Abik selain memberi prolog secara lisan, dia juga menyelipkan nasihat-nasihat yang relevan dengan kisah-kisah pada karyanya.

Hampir pukul 11.00 siang saya tiba di Istora. Matahari rasanya sudah ada di atas kepala, cuaca panas sekali. Dengan bergegas saya menuju pintu utama dan masuk gedung Istora yang ber-AC. Kebetulan pengunjung belum ramai sehingga sejuknya udara AC di dalam gedung menjadi kenikmatan tersendiri. Sambil berkeliling melihat-lihat buku-buku, akhirnya sampailah saya di stand Robbani Perss dan ternyata buku Ibnu Katsir yang sudah lama jadi incaran tergolek di rak tengah. Saya pun bertanya kepada si penjaga stand perihal buku yang dimaksud. Setelah tawar-menawar beberapa waktu akhirnya buku saya beli dengan diskon 25%. Lumayan. Setelah itu saya beranjak menuju stand GIP dan Al Ihtisom, tetapi karena (1 set) bukunya masih terlalu mahal, pembelian saya tunda dulu sampai uangnya cukup nanti. Toh kalo buku-buku GIP kita beli langsung di Depok (percetakannya), kita pasti dapat harga khusus, apalagi udah langganan.

Ba’da dzuhur sekitar pukul 13.00 saya masuk ke ruangan Anggrek di lantai atas. Ternyata sepertiga dari tempat duduk yang disediakan sudah terisi. Dari pemuda-pemudi ABG sampai bapak-bapak dan ibu-ibu, komplet. Tak lama kemudian acara pun dibuka oleh Bung moderator. Dibuka dengan tahmid & sholawat, Kang Abik memulai prolognya, mengulas latar belakang mengapa ia membuat karya dengan tema-tema ”Cinta”.

Dari yang mampu saya tangkap, Kang Abik menjelaskan beberapa hal yang sangat relevan dengan kondisi pergaulan muda-mudi jaman sekarang. Paham ”Cinta” yang kebanykan dianut adalah ”Cinta itu buta”, sebuah paham yang keliru. Masyarakat kita yang secara umum enggan membaca dan lebih suka mencontoh dari film, sinetron TV dan tingkah polah (lifestyle) para selebritis. Padahal cinta itu suatu yang tinggi, yang membawa kepada kemuliaan-bahasa saya-bila dilandasi dengan dasar yang benar dan dilakukan dengan sarana yang benar pula (pernikahan). Cinta yang dasarnya karena Allah SWT tentu akan berbeda secara ”value” dengan cinta yang dasarnya syahwati belaka. Kita memang perlu banyak membaca bagaimana Rasulullah SAW mencinta, bagaimana para sahabatnya mencinta, bagaimana juga para tabi’in dan orang-orang shalih mencinta.

Saya memang prihatin dengan kondisi masyarakat, terutama pergaulan muda-mudinya. Pemilik TV yang seharusnya dapat ”mengajarkan” nilai-nilai positif malahan menjadi corong pekerja seni bebas nilai yang di-drive para pemilik modal-jadi ingat bahasan korporatokrasi. Kita lihat pula bagaimana TV menghadirkan tayangan klenik & sihir, kemudian sinetron ”percintaan” anak SMP yang ”sun-sun-an”, belum lagi sinetron ”percintaan” yang orang dewasa. Kayaknya bangsa ini perlu revolusi budaya.

Setelah Kang abik selesai dengan ”prolog”-nya, dibukalah sesi tanya jawab. Kebanyakan yang bertanya adalah perempuan dan topik yang ditanyakan berkisar di cinta dan pernikahan. Diskusi terjadi dengan baik sehingga alhamdulillah saya dapat menangkap beberapa pelajaran ”yang menyegarkan” untuk kembali menguatkan ’azzamku.

Ya Allah aku ingin hidup lurus di jalan-Mu. Ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu. Limpahkanlah hidayah-Mu dan jagalah diriku dari perbuatan maksiat dengan penjagaan-Mu yang tidak pernah luput sekejap pun juga. Amin.”

Catatan Perjalanan: Bandung 2006

March 30th, 2007 by ramadita

Perjalanan ke Bandung bulan puasa lalu lumayan bangkitkan memori lama gue. Tujuan utama memang ke Rumah Sakit di bilangan Bandung Selatan, buat promosi. Habis dari situ gue putar haluan ke arah Metro…hmmm…brubah banyak banget. Pake ada Moll Guede di depan komplek. Masuk dari Jl. Rancabolang lalu mampir sejenak di AMANDA BROWNIES…hmmm….yummy…beli ”suvenir” buat orang rumah.

Perjalanan gue lanjutin menuju arah komplek perumahan Margahayu Raya. Jalannya cukup sempit buat Jeep gw bisa lewat, so gw pelan-pelan aja jadinya. Sebelum masuk komplek, gw sempet lewat GOR STAMINA (Gedung Olah Raga), Dojo tempat latihan Karate dulu. Gue masih inget si Novan (anak satu sekolahan) & teman-teman ”baru” gue suatu malam mampir ke GOR, ngajak nongkrong di Gasibu, nonton balapan. Mereka datang pake mobil Holden Kingswood, gw lupa tuh nama anak yang punya, tapi yang jelas ”ancur” banget orangnya. Karena gelagat pergaulannya yang rada aneh, ajakan mereka gue tolak & habis itu seperti ada gap di antara kami. Alhamdulillah banget gw nggak ikutan, ternyata-belakangan gue tau-mereka ”drugster” dan gilanya lagi mereka ternyata mulai nyoba gaya hidup a la freesex.

Sebelumnya, suatu hari kami jalan berempat dengan Holden itu, tiba-tiba….Brukk!! Satu orang menghantam sisi mobil pake kaki. Gue liat ke luar, ”Man!!, kita dihadang beberapa sepeda motor!!” Satu orang teriak nantang kami keluar, ngajak ribut. Ternyata motor-motor itu ada masalah sama si punya mobil. Biasa, beda Gank (motor-walau gw gak punya-tapi bisa jadi joki punya temen). Satu orang keluar dari mobil nentuin hari tanding. Ahh… untungnya gak lama dari itu gue pindah ke Tangerang, Alhamdulillah banget!!

Perjalanan gue lanjutin menuju rumah, bekas rumah tepatnya, karena udah dijual. Masuk area Saturnus Timur, wihh…keadaannya beda banget sama dulu. Jalan2 sudah di hotmix semua, keren!! Situasinya cukup sepi lantaran yang tinggal kebanyakan para orang tua, sedangkan anak-anaknya sudah pada merantau dan hidup mandiri.

Dari rumah, gue langsung meluncur ke arah tol Buahbatu, lewat jalan raya Ciwastra menuju Pasar Kordon (nih tempat gue belanja kalo musim petasan tiba-dulu jadi bandar petasan ceritanya-sampe diuber-uber polisi ke atep masjid-tapi untung nggak ketemu-hihihi-kurang canggih tuh polisi). Masuk tol di Buahbatu, gw tancep gas langsung ke Tangerang City. Sepanjang jalan banyak hal yang teringatkan kembali, mulai dari dagangin Es lilin buatan nyokap, mendadak jadi ”Cover Boy”, sampe kerasnya Bokap-Nyokap ngelarang gue main sore hari sebelum baca Qur’an. Ahh…ternyata masih banyak hal indah yang perlu disyukuri.

Rehat sejenak…..kumpulkan energi…..

Psikologi ditolak?

February 23rd, 2007 by ramadita

Hari itu aku tiba di parkiran FKM agak siang. Sadar datang terlambat dengan bergegas dalam balutan "pakaian sipil lengkap" alias pake jas dan dasi aku menuju Balai Sidang BNI untuk menghadiri undangan Pengukuhan Guru Besar UI. Aku pun melangkah menuju penerima tamu. Setelah mengisi daftar hadir, salah seorang mahasiswa membimbingku menunjukkan bangku-bangku yang masih kosong. Mataku pun secepat kilat mencari posisi yang paling enak. "Aha!!" ternyata ada teman lama, aku pun duduk di sebelahnya.

Beberapa saat kami sama-sama terdiam, khusyuk mendengarkan pidato. Rupanya teman sebelahku ini sudah nggak tahan pingin ngobrol, akhirnya dia bicara walau dengan bisik-bisik. "Bud, nt sudah ada calon? sudah proses?" tanya dia dengan nada pelan. Sebelumnya aku sudah menduga dan ternyata benar….nggak jauh-jauh pertanyaannya. "Belun, nt mau nyariin?" jawabku setengah hati. "Nt maunya sama dokter ya?" tanya dia lagi. Aku berfikir keras, "kok bisa-bisanya dia nyangka seperti itu ya?". Aku balik tanya, "Emang nt dulu maunya sama dokter ye?" Terdiam sebentar, temanku langsung jawab, " Iya Bud, tapi kalo UI mendingan jangan deeeh…". "Memangnya kenapa Bos?" tanyaku penuh selidik. " Pengalaman saya, kalo dokter tuh dijodoin sama dokter lagi, kalau pun ada wajahnya kurang bagus…". "Ooo…Bigitu ya" jawabku sambil langsung tanya "Emang nt ditolak berapa kali sih??" Dia pun manjawab "Dua kali, dan itu semua anak FK."

Sementara kami asyik ngobrol di belakang, acara pun usai. Sepanjang jalan gue jadi kepikiran tuh….tapi cuma sepanjang jalan. Ah ada-ada aja….

Gue yang lagi suntuk berat, ngoceh nggak jelas juntrungannya….peace!!

H A M K A

February 16th, 2007 by ramadita

Pada tanggal 23 Januari 2007, bersama Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, saya berkesempatan mengunjungi Museum Hamka di Maninjau, Sumatera Barat . Kami diantar oleh Bapak Mustamir, ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Sumatera Barat. Museum ini memuat banyak koleksi Hamka, mulai buku, jubah, topi, sampai alat pancing yang digunakan Hamka masa kecil. Bagi saya, kunjungan ke Museum Hamka ini sangatlah berkesan. Untuk pertama kali, saya sempat menginjakkan kaki di tanah kelahiran seorang tokoh dan ulama yang sudah saya baca berbagai karya dan tulisannya, sejak duduk di bangku SMP Negeri 1 Padangan Bojonegoro, Jawa Timur, tahun 1977.

Tulisan Hamka di rubrik “Dari Hati ke Hati” dalam majalah Panji Masyarakat (Panjimas) hampir tidak pernah saya lewatkan. Melalui berbagai tulisan Hamka, saya sudah mengenal bahaya paham sekularisme, termasuk para tokohnya, seperti Kemal Attaturk, yang dalam buku sejarah SMP dipuji sebagai pahlawan besar. Buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sudah habis saya baca ketika SMP. Ketika duduk di bangku SMA, buku Tasauf Modern karya Hamka, sering saya bawa ke sekolah, karena buku ini memberikan semangat yang tinggi untuk berprestasi. Saya menitikkan air mata ketika membaca tulisan Hamka di Majalah Panjimas yang mempertahankan fatwa haramnya merayakan Natal Bersama bagi umat Islam. Beliau memilih mundur sebagai Ketua MUI, ketimbang harus mencabut fatwa

Natal

tersebut, karena didesak pemerintah. Tak lama kemudian, beliau meninggal dunia.

Maka, adalah satu karunia besar, ketika tahun 2007 ini saya diberi kesempatan Allah untuk menyaksikan museum Hamka di Maninjau. Bangunannya cukup indah, berlokasi tepat di depan Danau Maninjau yang juga amat sangat indah. Bagi setiap penulis, pemandangan yang sangat indah itu tentu dapat memberikan inspirasi besar. Tidak diragukan lagi, Hamka adalah seorang tokoh dan ulama yang sangat dihormati di berbagai dunia Islam. Kabarnya, ada lebih dari 300 judul buku yang sudah diterbitkan. Tetapi, sayangnya, yang ada di Museum Hamka itu hanya beberapa puluh judul buku saja.

Hamka lahir 17 Februari 1908, di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat. Beliau meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, disingkat menjadi HAMKA. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. Semasa kecil, Hamka belajar agama pada ulama-ulama terkenal, seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, AR Sutan Mansur, dan tentu saja, ayahnya sendiri.

Dari para gurunya itulah, Hamka mampu menimba, mengamalkan, dan bahkan mengembangkan ilmunya. Ia menulis buku dalam berbagai bidang: aqidah, filsafat, sastra, sejarah, politik, dan sebagainya. Pada tahun 1953, Hamka terpilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 1977, Menteri Agama Indonesia, Hamka memenuhi permintaan untuk memimpin Majlis Ulama Indonesia, dan tahun 1981 ia meletakkan jabatan karena soal fatwa Natal tersebut. Hamka juga aktif dalam kegiatan politik melalui Masyumi. Hamka pernah menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi jurkam dalam Pemilu 1955.

Di dunia pers, kiprah Hamka juga cukup banyak. Tahun 1920-an, HAMKA menjadi wartawan beberapa surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, Hamka menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Terakhir, majalah yang sangat monumental yang dipimpinnya Panji Masyarakat. Berbagai penghargaan telah diterimanya, seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958 dan Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974.

Membaca kisah hidup dan perjuangan Hamka, kita akan terkenang pada seorang tokoh yang sangat gigih dalam mengembangkan ilmu dan perjuangan dakwah Islam. Hamka sangat gigih dalam mengembangkan keilmuan Islam. Ratusan karya telah dihasilkannya. Tetapi, sebagaimana tradisi yang berkembang dalam keilmuan Islam selama ratusan tahun, tulisan-tulisan Hamka bukan hanya berisi data-data sejarah tanpa makna, melainkan sarat dengan ruh keimanan dan perjuangan serta memompakan semangat tinggi untuk mempertahankan keyakinan Islam dan memperjuangkan Islam.

Tulisan-tulisan Hamka jauh dari penanaman semangat paham relativisme atau skeptisisme. Seharusnya, ruh ilmu, perjuangan, dan dakwah itulah yang diteruskan oleh gerenasi pelanjut Hamka, khususnya para ilmuwan muslim di Sumatera Barat. Hasil karya Hamka perlu dikaji, diteliti, dan dikembangkan lebih jauh. Harusnya, saat ini di Sumatera Barat sudah berdiri –bukan hanya museum Hamka– tetapi juga Pusat Studi Hamka yang menghimpun seluruh karya Hamka, termasuk dokumen-dokumen pribadi yang mungkin belum pernah diterbitkan, juga buku-buku, tesis, disertasi tentang Hamka yang kini tersimpan di berbagai universitas di Barat. Di Pusat Studi Hamka itulah para peneliti dari berbagai dunia bisa datang dan melakukan penelitian.

Keberadaan Museum Hamka bisa dijadikan sebagai langkah awal untuk membangun Pusat Studi Hamka semacam itu. Sebab, sungguh tidak sepatutnya jika Hamka “dimuseumkan” . Tidak ada tradisi ulama kita untuk dimuseumkan. Kita tidak pernah mengenal ada Museum Imam Syafii, Museum Imam Ghazali, Museum Ibnu Taymiyah, dan sebagainya. Yang perlu kita warisi dan kita kembangkan dari para ulama dan tokoh-tokoh kita adalah ilmu dan perjuangannya. Maka, buku-buku dan seluruh karya mereka harus kita letakkan di tempat yang terhormat. Kaum Muslim Indonesia tidak akan mengenal tokoh-tokoh kita sendiri, jika para cendekiawan, ulama, dan tokoh-tokoh umat Islam tidak mengembangkan warisan tradisi ilmu dari para pendahulu kita.

Krisis seperti ini sudah begitu tampak. Banyak aktivis Islam yang mengenal nama-nama Hasan al-Banna, Taqiyyudin al-Nabhani, Yusuf al-Qaradhawi, dan sebagainya. Tetapi, mereka mungkin sama sekali tidak mengenal Hamka, Natsir, AR Sutan Mansur, Agus Salim, Nuruddin al-Raniri, Yusuf Maqassari, dan sebagainya. Disamping mengenal tokoh-tokoh Islam dari berbagai belahan dunia, sudah seharusnya generasi muda Muslim juga mengenal para pejuang Islam di wilayah Nusantara ini. Sebab, merekalah yang telah berjasa besar dalam menyebarkan, menjaga, dan mengembangkan Islam di wilayah Nusantara.

Penyebaran Islam di wilayah Nusantara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei) merupakan suatu proses perjuangan yang sangat hebat. Bagaimana satub kawasan yang selama ratusan tahun didominasi oleh kepercayaan animis, Hindu, Budha, kemudian berubah menjadi kawasan Islam melalui proses dakwah. Jika kita telaah sejarah masuk dan penyebaran Islam di wilayah Nusantara ini, kita akan menemui banyak tokoh dan figur yang sangat hebat kualitasnya.

Sebutlah contoh kasus para wali yang menyebarkan Islam di Indonesia. Dalam bukunya, Sejarah Kebangkitan dan Perkembangan Islam di Indonesia, (1981), KH Saefuddin Zuhri mencatat, Maulana Malik Ibrahim memulai dakwahnya di wilayah Gresik pada tahun 1399. Berdasarkan batu nisan makamnya, Maulana Malik Ibrahim meninggal tahn 1419. Berarti, dalam waktu sekitar 20 tahun, wali ini telah berhasil mencetak kader-kader dakwah unggulan di tanah Jawa, mengingat para wali di Jawa adalah murid dari Maulana Malik Ibrahim.

Dari hasil perkawinannya dengan salah satu putri Kerajaan Cempa, lahirlah Raden Rahmat, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel. Saifuddin Zuhri mencatat bahwa perkawinan Maulana Malik Ibrahim dengan Putri Kerajaam Cempa itu menunjukkan adanya hal yang luar biasa pada diri sang wali. Dua putri Cempa lainnya dikawinkan dengan Raja Majapahit. Jadi, kedudukan Maulana Malik Ibrahim setara dengan Raja Majapahit. “Kalau tidak karena pribadi Maulana Malik Ibrahim yang hebat sekali, tidak mungkinlah rasanya akan disejajarkan dengan seorang raja kerajaan Majapahit, “ tulis Saifuddin Zuhri.

Para wali yang menyebarkan Islam di Jawa adalah para ulama yang sangat gigih dalam memperjuangkan Islam. Saudara Maulana Malik Ibrahim, yakni Maulana Ishaq, mempunyai putra Raden Paku (Sunan Giri) dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Maulana Malik Ibrahim berhasil mendidik santri-santrinya menjadi mubaligh-mubaligh Islam yang sangat gemilang. Anaknya sendiri, Sunan Ampel, kemudian diserahi oleh para santri Maulana Malik Ibrahim untuk memimpin pesantren ayahnya. Kepemimpinan dan ilmunya diakui oleh masyarakat luas. Dia kemudian diambil menantu oleh Raden Ario Tejo, seorang Adipati Kerajaan Majapahit yang sangat berpengaruh. Salah satu santri Sunan Ampel adalah Raden Patah, putra Raja Majapahit, Sri Kertabhumi. Sunan Ampel memiliki enam orang anak, diantaranya ialah Sunan Bonang dan Sunan Drajat.

Kisah-kisah gemilang para pejuang Islam di wilayah Nusantara ini harus terus digelorakan kepada generasi muda Islam, agar mereka tidak buta sejarah dan tidak tertipu oleh sejarah. Banyak orang Muslim yang tidak bangga menjadi Muslim dan tidak menjadikan tokoh-tokoh Islam sebagai idola mereka, karena tidak mengenal sejarah Islam dengan benar. Mereka lebih membanggakan Napoleon, George Washington, Thomas Jafferson, dan sebagainya, ketimbang Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, atau Umar bin Abdul Aziz. Para orientalis cukup berhasil menampilkan sejarah Islam dalam wajah yang sangat buruk. Jika membaca sejarah tentang Umar bin Khatab, misalnya, yang disorot adalah kisah pembunuhan terhadap Umar bin Khatab, bukan kehebatan, kecerdasan, dan kenegarawanan Umar r.a.

Masih banyak aspek sejarah Islam di Indonesia yang perlu diteliti dan ditulis oleh para sejarawan Muslim saat ini. Hamka termasuk seorang ulama yang sangat peduli dengan sejarah Islam di Indonesia . Dalam acara Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17-20 Maret 1963, Hamka membawakan makalah yang berjudul ”Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di daerah Pesisir Sumatera Utara”. Dalam forum tersebut, Hamka menegaskan kembali pendapatnya sejak tahun 1958, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia diterima langsung dari Mekkah. Hamka menolak pendapat Snouck Hurgronje bahwa Islam yang di bawa ke Indonesia adalah tidak asli dari Mekkah, melainkan Islam yang dari Gujarat atau Malabar. Hamka membantah pandangan yang mengecilkan peran orang-orang Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia, dan juga kesan bahwa Islam di Indonesia tidak asli lagi, melainkan Islam yang lebih dekat kepada syiah atau tradisi mistik India.

Hamka juga menyimpulkan Islam telah berangsur masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 Masehi. Juga, simpul Hamka, orang-orang Indonesia sejak abad pertama Hijriah telah menggali ajaran Islam yang berintikan mazhab Syafii. KH Abdullah bin Nuh, dalam bukunya, “Ringkasan Sejarah Wali Songo” juga mengemukakan bukti bahwa ajaran Wali Songo juga berintikan tauhid dengan rujukan-rujukan kitab ulama-ulama bermazhab Syafii, seperti Kitab “Ihya’ Ulumuddin,” karya Imam al-Ghazali dan kitab “Talkhis al-Minhaj” karya Imam Nawawi.

Sekarang memang banyak sarjana yang dalam hal sejarah mungkin lebih mampu menulis dengan labih baik dari Hamka. Tetapi, sekali lagi, para ulama dan tokoh Islam dulu bukan sekedar belajar untuk belajar semata. Bukan sekedar meneliti untuk penelitian semata. Mereka menekuni keilmuan Islam adalah semata-mata untuk meningkatkan keimanan dan memperjuangkan Islam. Semangat ilmiah dan perjuangan dalam dakwah Islam semacam inilah yang perlu kita warisi dari para ulama dan tokoh seperti Buya Hamka.

Tulisan Bang Adian Husaini,  saya kutip dari www.hidayatullah.com

Artikel diatas membuatku sedikit teringat cerita-cerita Nenek (alm) tentang Buya Hamka, termasuk saat Buya bertandang ke rumah Nenek di Tanjungkarang. Nenek sangat rajin menyimak ceramah-ceramah buya yang ditayangkan di TVRI-kala itu cuma TVRI yang dapat kami tonton-dan juga kuliah subuh via Radio butut kami.

- nostalgila lagi aah-

Cara Terbaik Melamar Wanita Shalihah

January 6th, 2007 by ramadita

Tidak mudah memang mengambil langkah besar melamar seorang wanita. Di manapun lelaki biasanya merasa deg-degan untuk memulainya. Ada perasaan takut ditolak serta harapan untuk diterima membuat langkah jadi maju mundur. Tapi memang harus ada keberanian untuk mencoba agar jelas dan tak mati penasaran dibuatnya.

Melamar wanita memang dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung anda dapat saja langsung menghadap pada walinya untuk menyatakan lamaran. Namun cara demikian memang lebih beresiko karena si wanita dalam keadaan yang benar-benar tidak siap. Sedangkan cara lain memang langsung bertanya pada wanita tersebut dengan langsung menyatakan maksud atau hanya dengan sindiran.

Dan melalui perantara juga bisa saja dilakukan sebagaimana dulu Khodijah r.a. melamar Rasulullah pun melalui perantara. Intinya cara manapun dapat anda lakukan selama cara tersebut tidak melanggar nilai moral dan agama, seperti hanya mengajak si wanita pergi berdua dengan anda ke tempat sepi. Melamar pun tetap harus didampingi mahrom

Setelah melamar, pasrahkan semuanya kepada Allah, ditolak atau diterima jangan risaukan, yang penting anda sudah berusaha. Dan tak perlu merasa malu dan rendah diri jika ditolak, karena anda tidak sendirian banyak lelaki pernah mengalami yang anda alami. Jangan berputus asa melamar wanita sholehah setelahnya, penolakan bukan berarti anda buruk tapi mungkin dia bukan yang terbaik untuk anda. Allahu akbar, selamat berusaha.

Dikutip dari www.eramuslim.com

Semesta Bertasbih

December 19th, 2006 by ramadita

Sabbahalillahimaafissamaawaatiwamaafilardl…

Alam semesta ini selalu bertasbih dan berzikir memang telah tertulis dalam Al-Qur’an..

Hanya kita saja sebagai manusia sering terlupa dari bersyukur dan mengingat Nya, padahal kita hanya tercipta dari setitik air tak bernilai yg keluar dari saluran pembuangan.. .

silakan buka dan lihat di Al-Qur’an:

Surat : Al-Israa’, ayat 44 [17.44] Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Surat : An-Nuur , ayat 41 [24.41] Tidakkah kamu tahu bahwasanya, Allah: kepada-Nya lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Surat : Al-Hadiid, ayat 1 [57.1] Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Surat: Al-Hasyr, ayat 24 [59.24] Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Surat : Al-Jumu’ah, ayat 1 [62.1] Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Surat : At-Taqhoobun, ayat 1 [64.1] Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

ps. sy kutip sebagian dari email mas barry sebagai pengingat.