Archive for June, 2006

Tuhan Sembilan Senti

Thursday, June 29th, 2006

Indonesia

adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,

tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,

di pabrik pekerja merokok,

di kantor pegawai merokok,

di kabinet menteri merokok,

di reses parlemen anggota DPR merokok,

di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,

hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,

di perkebunan pemetik buah kopi merokok,

di perahu nelayan penjaring ikan merokok,

di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,

di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia

adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,

di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok,

di ruang kuliah dosen merokok,

di rapat POMG orang tua murid merokok,

di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,

di bis

kota

sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,

di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,

di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,

di andong Yogya kusirnya merokok,

sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,

di warung Tegal pengunjung merokok,

di restoran di toko buku orang merokok,

di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan
HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau
di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia

adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,

dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,

di apotik yang antri obat merokok,

di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,

di ruang tunggu dokter pasien merokok,

dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,

di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,

pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,

panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,

di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,

di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok,

tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,

lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para

ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu
ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok
di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban
narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa
di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan
celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan
cerdasnya, Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan
sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

oleh Taufik Ismail

Kutuliskan kembali sajak ini sebagai warning kepada kita semua terhadap perusahaan rokok yang seakan-akan menjadi pahlawan ditengah-tengah bangsa ini, seakan-akan selalu dirindukan siang dan malam oleh bangsa ini, menjadi pahlawan devisa?? Padahal apakah mereka menanggung biaya pengobatan orang2 yang terserang penyakit paru2 gara2 merokok?? Apakah mereka bertanggungjawab membiarkan para pelajar mulai merokok?? Bagiku penjahat tetap penjahat…kecuali bertobat dan menebus kesalahannya kepada bangsa ini….secara hakiki…bukan seremonial belaka.#RBW#

Memori Hudzaifah

Monday, June 19th, 2006

Suatu hari di tahun 1999, dalam perjalanan dari Depok menuju rumah, aku transit di terminal Grogol. Di seberangnya berdiri dengan megah beberapa gedung baru di kampus A Universitas Trisakti. Setelah turun dari bis, akupun tergoda memasuki kampus untuk sekedar melihat-lihat. Kampus yang telah 2 tahun aku tinggalkan karena hijrah ke UI. Setelah melewati gerbang utama, kakiku melangkah menuju gedung Teknik Elektro. Akan tetapi setelah beberapa saat, langkahku terhenti. Aku tertegun sesaat, melihat bangunan megah di Belma (Balik Gelanggang Mahasiswa). “Sebuah Masjid!!..ya…sebuah Masjid!!” jeritku dalam hati. Seketika mataku terasa berat,”Subhalannah, luar biasa buah perjuangan Anda saudara-saudaraku.” Dahulu, memiliki masjid sendiri adalah impian. Setiap jumatan kami shalat di tempat seadanya. Tapi kini, sebuah bangunan yang layak telah hadir sebagai wasilah da’wah.

Setelah menyempatkan shalat di Masjid aku pun melanjutkan perjalanan ke tujuan semula, gedung Teknik Elektro. Di pojok sisi gedung kutemukan musholla Hudzaifah. Bantuknya masih sama hanya saja kondisinya lebih bersih. Mushollanya sempit untuk ukuran kampus Trisakti yang jumlah mahasiswanya ribuan. Saat aku masih berkuliah di

sana

, walaupun sempit, kurang cahaya dan sedikit lembab, tempat ini menjadi pusat da’wah Islam ditengah-tengah budaya hedonis yang hingar bingar.

Beberapa saat berada berada di pelataran musholla benar-benar membangkitkan memori lamaku selama beraktivitas di

sana

. Aku pun mulai terkenang wajah-wajah saudaraku satu per satu. Tak lama aku pun menyudahi bayangan-bayangan nostalgiaku dan bergegas menuju terminal Grogol. Patas 102 telah siap mengantarku pulang menuju Tangerang. Sepanjang jalan aku banyak merenung dan berharap semoga Allah Subhanahuwata’ala tetap mengikatkan diriku dengan orang-orang sholeh, orang orang yang bersemangat, orang-orang yang ikhlas.

Setelah mendengar kabar dari teman-teman, termasuk dari mas Eko Adhi Setyawan (E-Tisakti’92) sebelum beliau berangkat ke Jerman tahun 2001. Ternyata KIHT-Kerohanian Islam Hudzaifah Trisakti kini telah menjadi UKM-seperti Salam kalau di UI. Aku lebih surprise lagi setelah beberapa hari yang lalu melihat website-nya di www.hudzaifah.org Bro, it’s Cool!! Really….