Suzie dalam kenangan Part.2
Thursday, July 6th, 2006Another story about my suzie (Suzuki Tornado maksudnya). Suatu sore di tahun 2001, seperti biasa setiap minggu aku menyambangi daerah Pasar Minggu untuk menuntut ilmu. Kebetulan sebagian rekan-rekanku waktu itu adalah bapak-bapak guru Al Azhar Pasar Minggu, salah satunya adalah Pak Muhtarom. Hari itu giliran rumah beliau di Pejaten yang jadi lokasi acara. Selain jadi guru di Al-Azhar, beliau juga dosen STIE di daerah Jakarta Selatan.
Menjelang sore hatiku maju mundur untuk berangkat karena cuaca buruk. Hujan lebat baru saja melanda daerah Depok dan sekitarnya. Setelah hujan reda, akhirnya kuputuskan untuk berangkat walaupun hampir dipastikan telat. Setelah membawa beberapa perlengkapan, aku pun berangkat dari Depok sekitar pukul 16.30 mengendarai Suzuki Tornado menuju Pejaten.
Sekitar berjalan 20 menit dari kost-an-ku di Depok, sampailah aku di pertigaan yang kalo lurus arah Mampang dan kalo belok kanan ke Pejaten, aku ambil jalur yang ke kanan. Hujan rintik masih turun satu-satu. Sepanjang jalan aku temui banyak genangan air. Walaupun demikian aku masih yakin dengan kemampuan motorku, selama tidak mati di tengah banjir nggak bakalan ada masalah.
Belum lima menit aku jalan dari pertigaan tadi kutemui genangan yang luar biasa dalamnya, sekitar 40-50cm. Banyak kendaraan roda dua dan roda empat yang putar balik karena khawatir akan keselamatan kendaraanya bila melintas di genangan yang panjangnya kira-kira 100 meter. Aku pun berhenti sejenak memperhatikan situasi. Kulihat beberapa anak kecil bermain sambil mengarahkan kendaraan yang melintas di tengah banjir.
Setelah menggulung celana panjang, kuputuskan untuk terus jalan. Aku masukkan gigi 1 sehingga puratan mesin cukup tinggi dan motor pun melaju membelah genangan air. Sampai ditengah banjir kurasakan tidak ada masalah, semuanya normal, aku pun jadi lebih optimis bisa sampai di tempat acara.
Namun semuanya buyar!! Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang berenang di depan motorku sehingga aku berhenti dan mesin pun mati. Seketika aku sadar, mesin suzie sudah dipenuhi air. Suzie pun segera kutuntun keluar dari genangan. Sedih sekali rasanya sore itu. Kedinginan, lapar, letih capur jadi satu. Setelah keluar dari genangan aku segera telpon Pak Muhtarom memberitakan musibah yang kualami. Dia pun menuntunku via telpon menuju alamatnya karena aku benar-benar blank daerah tersebut dan baru pertama kali ke rumahnya.
Dengan pakaian yang basah sambil menuntun motor, akhirnya aku sampai di depan rumah Pak Muhtarom. "Alhamdulillah akhirnya sampai juga" ujarku dalam hati. Sesampai di depan pintu, kuucapkan salam "Assalamu’alaikum." "Wa’alaikum salam, masuk Akh" jawabnya ramah. Aku pun melangkah masuk kemudian berjabat tangan dengan Pak Muhtarom dan Abid (Sastra ‘95)-hampir lupa aku namanya. Di karpet sudah tersaji teh manis hangat dan kue-kue. "Ayo minum dulu," Pak Muhtarom mempersilahkan. "Wah pas banget, pas kedinginan minum teh manis hangat, pas laper banget, pas ada kue-kue, Alhamdulillah," pikirku sambil mencicipi hidangan yang ada.
Sambil menikmati hidangan kami bertiga mendiskusikan acara hari itu tidak berjalan normal karena Ustadz yang ditunggu tidak datang dan temen-temen pun banyak tidak hadir karena cuaca buruk. Setelah itu kami bertiga tilawah Qur’an bergiliran, dilanjutkan dengan kultum dan Sholat Magrib berjama’ah.
Ba’da Magrib, aku dan Abid pamit sama tuan rumah. Masalahku belum terpecahkan, motor kena banjir. Keluar dari halaman rumah aku ceritakan pada Abid kalau motorku masih ngadat akibat kebanyakan nenggak air pas lewat banjir alias nggak bisa hidup. Padahal perjalananku masih jauh ke Tangerang. Sambil menuntun sepeda motor, kami berjalan menghampiri abang-abang tambal ban yang kebetulan saat itu masih buka. "Bang, motor saya kerendem air banjir dan nggak bisa hidup, apa bisa saya pinjam peralatannya?" pintaku. Dengan suara menggelegar khas dari Medan si abang menjawab,"Pake aja Dek!!"
Dengan suka hati aku mulai membuka cylinder head dan busi-nya. Aku bersihkan satu per satu hingga benar-benar kering. Setelah itu, angin dari kompressor aku tembakkan ke bagian dalam blok mesin, sehingga air yang berada di dalam akan keluar. Abid dengan sabar menyaksikan aksiku dengan peralatan si abang tambal ban. Air sudah tidak keluar lagi, cylinder head dan busi pun sudah kering. Aku mulai memasangkan komponen-komponen tersebut satu per satu.
Setelah semua terpasang, "Bismillah" ku ayunkan kick stater Suzie dan "Subhanallah" mesin langsung hidup "Alhamdulillah." Peralatan yang kupinjam dari si abang ku susun kembali. Lalu aku memeriksa kedua saku celanaku, ternyata hanya ada uang kurang dari 2000 rupiah. Melihat wajahku yang kebingungan di depan si abang tambal ban, Abid dengan tanggap mengeluarkan 3000 rupiah dan memberikannya ke si abang. Alhamdulillah.
Kami berdua segera beranjak dari tempat tambal ban. Abid kuantarkan hingga perempatan ragunan dan aku melanjutkan perjalanan ke Tangerang. Alhamdulillah lancar-lancar saja. Aku pulang dengan perasaan yang "istimewa" yang sukar dilukiskan dengan kata-kata hingga kini.#RBW#