Workshop Cinta

Sabtu pekan lalu, selepas ta’lim pagi, dengan tas ransel di punggung, motorcycle langsung saya tancap gas menuju Istora Senayan. Cuaca cukup cerah hari itu sehingga saya tidak perlu bawa perlengkapan anti hujan. Cukup blue jins plus polo shirt merah ati, tidak lupa spatu kets dan black hat. Sesuai dengan niatnya yang mau rileks, santai-santai sambil cari (diskon-an) beberapa buku yang sudah lama diincar. Bukan hanya itu, sebetulnya saya juga pingin lihat acara “temu penulis dan launching novel” karya Habiburrahman El Shirazi. Tahun lalu saya pernah ikut juga di acara yang sama dengan moderator Mbak Ratih Sanggarwati untuk novel Ayat-Ayat Cinta. Waktu itu kebetulan pulang dari acara Walimatul Ursy-nya Mega (FE’98) di masjid Al Bina Senayan. Di acara seperti tersebut, penulis menjelaskan maksud dan tujuan dari karyanya dengan prolog lisan (red:pengantar). Ust.Habib atau biasa disapa Kang Abik selain memberi prolog secara lisan, dia juga menyelipkan nasihat-nasihat yang relevan dengan kisah-kisah pada karyanya.

Hampir pukul 11.00 siang saya tiba di Istora. Matahari rasanya sudah ada di atas kepala, cuaca panas sekali. Dengan bergegas saya menuju pintu utama dan masuk gedung Istora yang ber-AC. Kebetulan pengunjung belum ramai sehingga sejuknya udara AC di dalam gedung menjadi kenikmatan tersendiri. Sambil berkeliling melihat-lihat buku-buku, akhirnya sampailah saya di stand Robbani Perss dan ternyata buku Ibnu Katsir yang sudah lama jadi incaran tergolek di rak tengah. Saya pun bertanya kepada si penjaga stand perihal buku yang dimaksud. Setelah tawar-menawar beberapa waktu akhirnya buku saya beli dengan diskon 25%. Lumayan. Setelah itu saya beranjak menuju stand GIP dan Al Ihtisom, tetapi karena (1 set) bukunya masih terlalu mahal, pembelian saya tunda dulu sampai uangnya cukup nanti. Toh kalo buku-buku GIP kita beli langsung di Depok (percetakannya), kita pasti dapat harga khusus, apalagi udah langganan.

Ba’da dzuhur sekitar pukul 13.00 saya masuk ke ruangan Anggrek di lantai atas. Ternyata sepertiga dari tempat duduk yang disediakan sudah terisi. Dari pemuda-pemudi ABG sampai bapak-bapak dan ibu-ibu, komplet. Tak lama kemudian acara pun dibuka oleh Bung moderator. Dibuka dengan tahmid & sholawat, Kang Abik memulai prolognya, mengulas latar belakang mengapa ia membuat karya dengan tema-tema ”Cinta”.

Dari yang mampu saya tangkap, Kang Abik menjelaskan beberapa hal yang sangat relevan dengan kondisi pergaulan muda-mudi jaman sekarang. Paham ”Cinta” yang kebanykan dianut adalah ”Cinta itu buta”, sebuah paham yang keliru. Masyarakat kita yang secara umum enggan membaca dan lebih suka mencontoh dari film, sinetron TV dan tingkah polah (lifestyle) para selebritis. Padahal cinta itu suatu yang tinggi, yang membawa kepada kemuliaan-bahasa saya-bila dilandasi dengan dasar yang benar dan dilakukan dengan sarana yang benar pula (pernikahan). Cinta yang dasarnya karena Allah SWT tentu akan berbeda secara ”value” dengan cinta yang dasarnya syahwati belaka. Kita memang perlu banyak membaca bagaimana Rasulullah SAW mencinta, bagaimana para sahabatnya mencinta, bagaimana juga para tabi’in dan orang-orang shalih mencinta.

Saya memang prihatin dengan kondisi masyarakat, terutama pergaulan muda-mudinya. Pemilik TV yang seharusnya dapat ”mengajarkan” nilai-nilai positif malahan menjadi corong pekerja seni bebas nilai yang di-drive para pemilik modal-jadi ingat bahasan korporatokrasi. Kita lihat pula bagaimana TV menghadirkan tayangan klenik & sihir, kemudian sinetron ”percintaan” anak SMP yang ”sun-sun-an”, belum lagi sinetron ”percintaan” yang orang dewasa. Kayaknya bangsa ini perlu revolusi budaya.

Setelah Kang abik selesai dengan ”prolog”-nya, dibukalah sesi tanya jawab. Kebanyakan yang bertanya adalah perempuan dan topik yang ditanyakan berkisar di cinta dan pernikahan. Diskusi terjadi dengan baik sehingga alhamdulillah saya dapat menangkap beberapa pelajaran ”yang menyegarkan” untuk kembali menguatkan ’azzamku.

Ya Allah aku ingin hidup lurus di jalan-Mu. Ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu. Limpahkanlah hidayah-Mu dan jagalah diriku dari perbuatan maksiat dengan penjagaan-Mu yang tidak pernah luput sekejap pun juga. Amin.”

4 Responses to “Workshop Cinta”

  1. Nugroho Says:

    So, kesimpulannya, dah siap married kah? mau dicariin? ;-)

  2. ramadita Says:

    hehehe…do’akan Bang, semoga Allah SWT memberi kelapangan dan kemudahan:)

  3. Agus Says:

    Kayanya, doanya sering deh,tapi kongkritnya belum..hehe..

    Mampir ke blog gw dong bud, di :
    http://goslink.wordpress.com

  4. ramadita Says:

    Hehehe….tapi do’a tetep penting kan Gus??!! Do’ain aja deh…

Leave a Reply