Revolusi?

Terpaku sejenak di pojok ruangan, Ramli menyeka wajah kuyunya. Setelan necis ala salesman masih melekat menemani walau sore itu parfum Bvlgari sudah tidak semerbak lagi. Pandangan kosongnya mengarah ke telepon yang sejak pagi berdering hampir tanpa henti. Otaknya berfikir keras, cara apa lagi yang akan dilakukan untuk tetap menang dalam lelang besar-besaran di Jawa Tengah. Jenuh dalam posisi duduk, akhirnya ia pun bangkit dari kursi sambil melangkah untuk meraih gagang telepon dan memutar sebuah nomor. Nomor mitranya di

Jakarta

.

“Halo, Assalamu’alaikum Pak Arbi”

“Wa’alaikumsalam Pak Ramli, bgmana kabar project kita? Sudah pengumuman kah?” tanya mitranya itu dengan

gaya

yang santai.

“Wah, gawat Pak!! Tadi siang saya ketemu Dokter Basalamah dari tim pembelian, yang mau beli alat kita, dengan nada kecewa Pak Dokter cerita sama saya apa yang terjadi antara dia dan PPTK (pejabat pembuat komitmen, pen.)” Ramli menjawab dengan nada penuh kecemasan.

Ramli mulai bercerita kepada Arbi, mitranya. RKS (rencana kerja, pen.) memang sudah ditanda-tangani oleh panitia lelang. Spesifikasi alat yang diinginkan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena dokter Basalamah sebagai user mamang ingin sesuatu yang baru, alat rancangan dan produksi Arbi. Akan tetapi proses tidak berjalan mulus, di tengah jalan PPTK (pejabat pembuat komitmen, pen.) ingin mengubah RKS yang ada dengan menyuap seluruh panitia, termasuk dokter agar setuju dengan spesifikasi alat yang diusulkannya. Alat buatan USA dengan merek GE (General Electric) yang harganya selangit. Beruntung Ramli, Dokter Basalamah masih punya sedikit idealisme. Dia mau menolak tegas usulan dari PPTK dengan satu syarat, Ramli harus melobi perusahaan Arbi untuk bisa menyaingi spesifikasi alat buatan GE.

” Oooo begitu Pak ceritanya.” Jawab Arbi yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama uraian Ramli. ” Arbi pun melanjutkan, ”Begini deh Pak, kasih saya waktu satu hari untuk berfikir, kebetulan saya sudah mampu buat mesin kontrol microprocessor 8 bit seperti GE, yang buat alat saya model tahun depan. Untuk menyaingi spek GE saat ini saya pikir sangat mungkin sekali, namun harganya pasti akan naik.”

”Harga ndak masalah Pak, yang penting bisa setara GE”, jawab Ramli meyakinkan.

”Ok Pak, jangan khawatir, insya Allah bisa, Bapak tenang saja. Besok pagi Bapak saya kontak lagi, Assalamu’alaikum!” Arbi menutup pembicaraan.

Cuplikan fiksi di atas merupakan potret suram birokrasi dan administrasi di republik ini. Walaupun sudah ada KPK, para birokrat masih berani juga cari celah. Saya pun kadang agak bingung menghadapi para birokrat. Inginnya setiap saya meeting dengan birokrat atau pejabat, saya selalu bawa perekam suara. Play Safe dan selalu waspada.

Kalo mau maju, indonesia perlu revolusi sekali lagi. Revolusi Jiwa!! Sehingga yang miskin bisa bangkit, punya semangat juang karena ada harapan untuk maju. Sementara itu yang kaya mengasihi yang miskin, sepenuh hati, bukan cuma 2,5%. Memang hidup bukan untuk dunia saja seperti bahasa sebagian orang, ”menikmati hidup”. Saya kira akan lebih tepat jika istilahnya ditambahkan menjadi, ”menikmati hidup dengan benar.” Ini bukan utopia belaka, saya yakin kita bisa. Bisa maju. Bisa lebih baik lagi.

One Response to “Revolusi?”

  1. AsTY Says:

    Gw setuju banget, Bud!! Gw sering kali mengelus dada saat liputan di ranah “birokrat”. Suatu pagi gw ke kantor salah satu walikota di Jkt. Sekitar jam 10an, untuk ngurus ijin liputan di suatu taman pemakaman umum. Saat itu gw menunggu di sebuah ruangan kerja yang cukup besar. Gw perhatikan orang-orang yang ada di ruangan sana, dan sekitar 95%nya gak kerja. Ada yang lagi main games di komputer, ada yang ngerumpi, ada juga yang baca koran (yang ini masih mending lah, itung2 ngisi kepala dengan pengetahuan umum). Belum lagi pungutan2 ajaib saat kita ngurus2, semisal KTP. Kalau untuk urusan yang satu ini, gw pake kartu as deh heheheh…alias langsung menunjukkan identitas diri sebagai wartawan hehehe. Tp untungnya masih ada jajaran birokrat yang masih tergolong “bersih” dan “jujur”. Tapi ngomong-ngomong….ini cerita fiksi…tp kok rasanya “mirip2″ dengan ….:P
    Btw, good luck ya ;)

Leave a Reply