A Jeep Story: Tuning C240 Engine

Sudah hampir 6 tahun Jeep CJ7 menemani aktifitas keseharian saya. Nggak kerasa. Jeep keluaran 1981 ini merupakan ex-dum Departemen Kesehatan dan saya dapat dalam kondisi “stock” alias standar kecuali beberapa hal. Pada mobil ini saya temukan power steering AMC yang juga dipakai saudara mudanya, Jeep Cherokee. Lalu sumbu “axles” depan dan belakang yang model lebar sehingga mobil terlihat lebih “ngangkang”. Selebihnya standar abis. Dapur pacunya, engine standar Diesel C240 yang dilengkapi dengan transmisi AMC T4 Borg-Warner.

Banyak orang (red:anak jeep) males dengan Jeep diesel karena tarikannya yang “loyo”. Padahal itu nggak sepenuhnya benar. Dengan sedikit modifikasi pada engine, dijamin mobil Jeep Diesel masih bisa ngacir ninggalin mobil-mobil yang lebih muda. Beberapa perubahan yang saya lakukan adalah mengganti injection pump, mengganti nozzles dan “membuang” priming pump.

Engine C240 pada Jeep diesel itu sama persis dengan engine yang dipakai di Forklift Komatsu (saya pernah kerja di PT.United Tractors). Kalau kita perhatikan sekilas fisiknya mirip dengan engine C223 milik Isuzu Panther. Headnya memang sama persis dan interchangable. Perbedaan urama terletak pada panjang “stroke” dan crankshaft-nya. Engine C240 memiliki langkah yang lebih panjang dan “bandul” kruk as yang lebih besar, merupakan ciri khas heavyduty engine “mesin pekerja”. Dengan konstruksi yang sedemikian rupa engine lebih “balanced” dan torsi maksimal bisa diraih pada putaran yang rendah.

Sayangnya engine ini masih menggunakan inline injection pump sehingga irit banget sampe-sampe mobil jadi nggak ada tenaganya alias loyo. Mensiasati kondisi tersebut, saya mengganti injection pump-nya dengan yang model rotary (tidak merubah konstruksi, tinggal pasang). Saya beli dulu masih murah, kalu sekarang harga pasaran sekitar Rp 2-2,5 juta. Lalu nozzles injeksi pun saya ganti dengan yang lebih tinggi tekanannya, sehingga pengabutan solar jadi lebih baik. Hasilnya terikan lebih enteng. Apalagi gigi final drive yang kasar membuat mobil terasa mau loncat ketika gas “dibejek”. Nah kalau sudah begini, konsumsi BBM pasti akan bertambah (sedikit) karena anda pasti akan lebih doyan nginjek gas.

2 Responses to “A Jeep Story: Tuning C240 Engine”

  1. Asrul Says:

    wah thanks sharing ide nya
    Btw kalau ini diterapkan di C223 bisa juga nggak yah?
    soalnya kerasa banget kalau pas tanjakan di cipularang.. kudu ngikutin jalur truck

  2. Ato Says:

    Ini dia yg gw cari dr dulu, gara2 cj7 gw diledekin mulu, udah lelet berisik lagi…
    thanx bgt atas infonya, kalo boleh tanya masangnya di bengkel mana? biar gak perlu coba2 di bengkel2 lain lagi

Leave a Reply