Main ke Racing Workshop

Tanggal merah kemarin saya ceritanya mengantarkan teman yang mau merestorasi Cololla DX. Setelah pekan lalu survey keliling ke beberapa bengkel, kami diskusi sejenak dan sepakat untuk ketemu hari itu di bengkel yang ditentukan.

Sekilas bengkel tersebut terlihat biasa saja, sama seperti bengkel-bengkel pinggiran lainnya. Berdinding seng dan beralaskan tanah. Sederhana. Tapi pas kita masuk ke dalam, hmm…pandangan saya berubah. Sebuah sedan putih Nissan 200 seri Z 1983, mirip dengan AE86 (hachiroku), lampu depan model flip-top. Diseberangnya ada Toyota GT Coupe warna beige, rally racing style, lengkap dengan spion tanduknya. Taksiran saya mobil ini keluaran tahun 1980. Lebih ke dalam lagi, saya menemukan Totota Celica GT, Datsun Violet tahun 70-an, Corolla DX, Mitsubishi Lancer, Datsun "Pek-Ji-Way" 120-Y Coupe, dan semuanya berada dalam aroma racing car.

Mata saya tertuju pada gelondongan engine yang bertaburan di dekat "sofa" dan wooow…Nissan SR20DET, 4AGE-BlackTop, mantap-mantap…dan yang jarang saya liat Mazda rotary engine 12 B, juga 13 B (carburretor). Saya jadi berkhayal, kayak apa ya rasanya punggung didorong 200 horsepower?? Pastinya melesat cepat & nikmat banget:)

Saya masuk ke dalam, tampak sesosok tubuh tinggi besar dengan wajah ramah menyambut kedatangan kami. Dialah si empunya bengkel. Ketika kami memulai pembicaraan ada laki-laki putih berkacamata masuk sambil menenteng propeller shaft. Sementara teman saya berkonsultasi dengan si empunya bengkel, saya penasaran sama mobil si laki-laki tersebut dan saya tanya, "Mobilnya kenapa Mas?". Dia menjawab, "Ini, gandarnya (propeller shaft) "kena", kemaren saya di tol, speedometer mentok di 180km/jam, pulang-pulang gandar oblak." Walah, sinting nih orang, 180km/jam?? kayak main NFS (Need For Speed) dong. Saya tanya lagi, "Emang pake mobil apaan Mas?". Dia jawab lagi, "Tuh DX biru yang diluar(maksudnya Corolla DX)." Sambil beranjak keluar bengkel saya tanya lagi, "Mana Mas?" Dia berjalan mengikuti saya dari belakang sambil menujukkan mobilnya.

Sesampai didepan mobil biru, tanpa diminta, diapun langsung membuka kap mesinnya. Pas dibuka, jreeeng….engine 4AGE Blacktop nongkrong disitu. Yaah..pantes aja bisa tembus 180km/jam. Tapi yang paling sinting, dia jalan segitu dengan bawa istri dan dua anak-anaknya yang masih kecil. Dia bilang, anak-anaknya senang ngebut kayak gitu. Saya jadi mikir, jangan-jangan ini (ganti mesin ini) disuruh istrinya:)

Dari situ saya bisa sedikit ambil kesimpulan, rebuilt a classic car memang nggak gampang, apalagi kalo suka racing style, stage 1 atau stage 2 modification. Aspek-aspek engine, transmission, brake, clutch dan safety harus diperhatikan serius. Untuk kasus di atas, saya concern masalah rem. Rem harus ganti yang hi-performance juga, lha kan mesinnya juga "gila". Lalu craddle bar/roll bar dan safety belt, just in case ada trouble, driver dan penumpang masih bisa selamat. Untuk hal seperti ini saya lebih mengedepankan rasio daripada emosi. Mungkin kalo mau nge-test mesin, nggak perlu juga digeber sampe 180km/jam, apalagi bawa semua anggota keluarga.

Dulu waktu masih "muda" memang saya pernah bawa Honda Civic di jalan tol Merak sampe 180km/jam, masih stabil. Tapi sedikit di atas itu, turbulensi udara membuat bodi jadi tidak stabil. Intinya, BAHAYA!! (buat sendiri & buat orang lain) Kalo mau balapan, di sirkuit aja.

Eniwei, main ke bengkel itu gw koq jadi ngiler kebut2an yah:) Just wondering, punya Charmant ‘86 dengan engine 4AGE SilverTop….bruuum….brruuummm….nggak perlu mewah, yang penting sing kuenceng:)

One Response to “Main ke Racing Workshop”

  1. Турок Says:

    Тема ну просто пиздец.
    Неужели ничего поактуальней не нашлось?

Leave a Reply