Sebuah Renungan di Penghujung 27.

September 12th, 2006 by ramadita

Pertemuanku dg Abdullah di Masjid Bahrul ‘Ulum PUSPIPTEK beberapa waktu lalu-Subhanallah-membawaku flash back ke tahun 1994. Dia adalah salah satu dari dua seniorku di SMU yang saat itu kulihat "luar biasa." Semangat, militansi dan dedikasinya patut kuacungi jempol. Kalau buletin Da’wah sudah mau dedline, hampir tiap hari dia datang ke rumahku, edit materi hingga layout. Selain itu diskusi-diskusi ringan namun berbobot sekitar dunia Islam selalu hadir sebagai selingan pekerjaan fisik kami. Diskusi bertambah seru kalau ada Agung SB, "mitra politik"-ku yang pertama.

Hampir 12 tahun berlalu, namun banyak memori suka duka bersama mereka masih melekat. Kini Abdullah bekerja sebagai peneliti di salah satu lembaga pemerintah. Saat kuliah beberapa kali kami bertemu di MUI Depok, namun hanya selintas saja karena kesibukan masing-masing. Doi ternyata telah menikah dan memiliki satu orang putri. Sedangkan Agung SB bekerja di sebuah harian umum di Semarang sambil aktif menjadi humas salah satu parpol Islam untuk wilayah Jawa Tengah. Keduanya masih istiqomah di jalan yang kami sama-sama lalui dulu. Sorot matanya masih seperti dulu, lontaran-lontaran ucapannya masih mengusung tema yang sama. Nostalgila nih…

Ah, bahagianya bertemu teman-teman lama yang istiqomah. Membuatku merenung, memikirkan hidup, menata hati, meluruskan niat, merencanakan dan bertindak…ya bertindak !!! Simple thing…but it makes me smile deep in my heart.

*Abdullah alias AMJP adalah MIPA UI’95 sedang Agung SB adalah FISIP Undip ‘96.

Suzie dalam kenangan Part.2

July 6th, 2006 by ramadita

Another story about my suzie (Suzuki Tornado maksudnya). Suatu sore di tahun 2001, seperti biasa setiap minggu aku menyambangi daerah Pasar Minggu untuk menuntut ilmu. Kebetulan sebagian rekan-rekanku waktu itu adalah bapak-bapak guru Al Azhar Pasar Minggu, salah satunya adalah Pak Muhtarom. Hari itu giliran rumah beliau di Pejaten yang jadi lokasi acara. Selain jadi guru di Al-Azhar, beliau juga dosen STIE di daerah Jakarta Selatan.

Menjelang sore hatiku maju mundur untuk berangkat karena cuaca buruk. Hujan lebat baru saja melanda daerah Depok dan sekitarnya. Setelah hujan reda, akhirnya kuputuskan untuk berangkat walaupun hampir dipastikan telat. Setelah membawa beberapa perlengkapan, aku pun berangkat dari Depok sekitar pukul 16.30 mengendarai Suzuki Tornado menuju Pejaten.

Sekitar berjalan 20 menit dari kost-an-ku di Depok, sampailah aku di pertigaan yang kalo lurus arah Mampang dan kalo belok kanan ke Pejaten, aku ambil jalur yang ke kanan. Hujan rintik masih turun satu-satu. Sepanjang jalan aku temui banyak genangan air. Walaupun demikian aku masih yakin dengan kemampuan motorku, selama tidak mati di tengah banjir nggak bakalan ada masalah.

Belum lima menit aku jalan dari pertigaan tadi kutemui genangan yang luar biasa dalamnya, sekitar 40-50cm. Banyak kendaraan roda dua dan roda empat yang putar balik karena khawatir akan keselamatan kendaraanya bila melintas di genangan yang panjangnya kira-kira 100 meter. Aku pun berhenti sejenak memperhatikan situasi. Kulihat beberapa anak kecil bermain sambil mengarahkan kendaraan yang melintas di tengah banjir.

Setelah menggulung celana panjang, kuputuskan untuk terus jalan. Aku masukkan gigi 1 sehingga puratan mesin cukup tinggi dan motor pun melaju membelah genangan air. Sampai ditengah banjir kurasakan tidak ada masalah, semuanya normal, aku pun jadi lebih optimis bisa sampai di tempat acara.

Namun semuanya buyar!! Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang berenang di depan motorku sehingga aku berhenti dan mesin pun mati. Seketika aku sadar, mesin suzie sudah dipenuhi air. Suzie pun segera kutuntun keluar dari genangan. Sedih sekali rasanya sore itu. Kedinginan, lapar, letih capur jadi satu. Setelah keluar dari genangan aku segera telpon Pak Muhtarom memberitakan musibah yang kualami. Dia pun menuntunku via telpon menuju alamatnya karena aku benar-benar blank daerah tersebut dan baru pertama kali ke rumahnya.

Dengan pakaian yang basah sambil menuntun motor, akhirnya aku sampai di depan rumah Pak Muhtarom. "Alhamdulillah akhirnya sampai juga" ujarku dalam hati. Sesampai di depan pintu, kuucapkan salam "Assalamu’alaikum." "Wa’alaikum salam, masuk Akh" jawabnya ramah. Aku pun melangkah masuk kemudian berjabat tangan dengan Pak Muhtarom dan Abid (Sastra ‘95)-hampir lupa aku namanya. Di karpet sudah tersaji teh manis hangat dan kue-kue. "Ayo minum dulu," Pak Muhtarom mempersilahkan. "Wah pas banget, pas kedinginan minum teh manis hangat, pas laper banget, pas ada kue-kue, Alhamdulillah," pikirku sambil mencicipi hidangan yang ada.

Sambil menikmati hidangan kami bertiga mendiskusikan acara hari itu tidak berjalan normal karena Ustadz yang ditunggu tidak datang dan temen-temen pun banyak tidak hadir karena cuaca buruk. Setelah itu kami bertiga tilawah Qur’an bergiliran, dilanjutkan dengan kultum dan Sholat Magrib berjama’ah.

Ba’da Magrib, aku dan Abid pamit sama tuan rumah. Masalahku belum terpecahkan, motor kena banjir. Keluar dari halaman rumah aku ceritakan pada Abid kalau motorku masih ngadat akibat kebanyakan nenggak air pas lewat banjir alias nggak bisa hidup. Padahal perjalananku masih jauh ke Tangerang. Sambil menuntun sepeda motor, kami berjalan menghampiri abang-abang tambal ban yang kebetulan saat itu masih buka. "Bang, motor saya kerendem air banjir dan nggak bisa hidup, apa bisa saya pinjam peralatannya?" pintaku. Dengan suara menggelegar khas dari Medan si abang menjawab,"Pake aja Dek!!"

Dengan suka hati aku mulai membuka cylinder head dan busi-nya. Aku bersihkan satu per satu hingga benar-benar kering. Setelah itu, angin dari kompressor aku tembakkan ke bagian dalam blok mesin, sehingga air yang berada di dalam akan keluar. Abid dengan sabar menyaksikan aksiku dengan peralatan si abang tambal ban. Air sudah tidak keluar lagi, cylinder head dan busi pun sudah kering. Aku mulai memasangkan komponen-komponen tersebut satu per satu.

Setelah semua terpasang, "Bismillah" ku ayunkan kick stater Suzie dan "Subhanallah" mesin langsung hidup "Alhamdulillah." Peralatan yang kupinjam dari si abang ku susun kembali. Lalu aku memeriksa kedua saku celanaku, ternyata hanya ada uang kurang dari 2000 rupiah. Melihat wajahku yang kebingungan di depan si abang tambal ban, Abid dengan tanggap mengeluarkan 3000 rupiah dan memberikannya ke si abang. Alhamdulillah.

Kami berdua segera beranjak dari tempat tambal ban. Abid kuantarkan hingga perempatan ragunan dan aku melanjutkan perjalanan ke Tangerang. Alhamdulillah lancar-lancar saja. Aku pulang dengan perasaan yang "istimewa" yang sukar dilukiskan dengan kata-kata hingga kini.#RBW#

Tuhan Sembilan Senti

June 29th, 2006 by ramadita

Indonesia

adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,

tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,

di pabrik pekerja merokok,

di kantor pegawai merokok,

di kabinet menteri merokok,

di reses parlemen anggota DPR merokok,

di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,

hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,

di perkebunan pemetik buah kopi merokok,

di perahu nelayan penjaring ikan merokok,

di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,

di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia

adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,

di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok,

di ruang kuliah dosen merokok,

di rapat POMG orang tua murid merokok,

di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,

di bis

kota

sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,

di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,

di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,

di andong Yogya kusirnya merokok,

sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,

di warung Tegal pengunjung merokok,

di restoran di toko buku orang merokok,

di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan
HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau
di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia

adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,

dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,

di apotik yang antri obat merokok,

di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,

di ruang tunggu dokter pasien merokok,

dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,

di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,

pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,

panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,

di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,

di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok,

tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,

lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para

ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu
ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok
di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban
narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa
di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan
celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan
cerdasnya, Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan
sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

oleh Taufik Ismail

Kutuliskan kembali sajak ini sebagai warning kepada kita semua terhadap perusahaan rokok yang seakan-akan menjadi pahlawan ditengah-tengah bangsa ini, seakan-akan selalu dirindukan siang dan malam oleh bangsa ini, menjadi pahlawan devisa?? Padahal apakah mereka menanggung biaya pengobatan orang2 yang terserang penyakit paru2 gara2 merokok?? Apakah mereka bertanggungjawab membiarkan para pelajar mulai merokok?? Bagiku penjahat tetap penjahat…kecuali bertobat dan menebus kesalahannya kepada bangsa ini….secara hakiki…bukan seremonial belaka.#RBW#

Memori Hudzaifah

June 19th, 2006 by ramadita

Suatu hari di tahun 1999, dalam perjalanan dari Depok menuju rumah, aku transit di terminal Grogol. Di seberangnya berdiri dengan megah beberapa gedung baru di kampus A Universitas Trisakti. Setelah turun dari bis, akupun tergoda memasuki kampus untuk sekedar melihat-lihat. Kampus yang telah 2 tahun aku tinggalkan karena hijrah ke UI. Setelah melewati gerbang utama, kakiku melangkah menuju gedung Teknik Elektro. Akan tetapi setelah beberapa saat, langkahku terhenti. Aku tertegun sesaat, melihat bangunan megah di Belma (Balik Gelanggang Mahasiswa). “Sebuah Masjid!!..ya…sebuah Masjid!!” jeritku dalam hati. Seketika mataku terasa berat,”Subhalannah, luar biasa buah perjuangan Anda saudara-saudaraku.” Dahulu, memiliki masjid sendiri adalah impian. Setiap jumatan kami shalat di tempat seadanya. Tapi kini, sebuah bangunan yang layak telah hadir sebagai wasilah da’wah.

Setelah menyempatkan shalat di Masjid aku pun melanjutkan perjalanan ke tujuan semula, gedung Teknik Elektro. Di pojok sisi gedung kutemukan musholla Hudzaifah. Bantuknya masih sama hanya saja kondisinya lebih bersih. Mushollanya sempit untuk ukuran kampus Trisakti yang jumlah mahasiswanya ribuan. Saat aku masih berkuliah di

sana

, walaupun sempit, kurang cahaya dan sedikit lembab, tempat ini menjadi pusat da’wah Islam ditengah-tengah budaya hedonis yang hingar bingar.

Beberapa saat berada berada di pelataran musholla benar-benar membangkitkan memori lamaku selama beraktivitas di

sana

. Aku pun mulai terkenang wajah-wajah saudaraku satu per satu. Tak lama aku pun menyudahi bayangan-bayangan nostalgiaku dan bergegas menuju terminal Grogol. Patas 102 telah siap mengantarku pulang menuju Tangerang. Sepanjang jalan aku banyak merenung dan berharap semoga Allah Subhanahuwata’ala tetap mengikatkan diriku dengan orang-orang sholeh, orang orang yang bersemangat, orang-orang yang ikhlas.

Setelah mendengar kabar dari teman-teman, termasuk dari mas Eko Adhi Setyawan (E-Tisakti’92) sebelum beliau berangkat ke Jerman tahun 2001. Ternyata KIHT-Kerohanian Islam Hudzaifah Trisakti kini telah menjadi UKM-seperti Salam kalau di UI. Aku lebih surprise lagi setelah beberapa hari yang lalu melihat website-nya di www.hudzaifah.org Bro, it’s Cool!! Really….

Jomblology

May 24th, 2006 by ramadita

Jomblology adalah ilmu yang membahas tentang JOMBLO. Dalam bahasa latin jomblus artinya satu, sendiri atau single.
 

Jomblology mempelajari sifat, kebiasaan, karakteristik, kelebihan, dan kekurangan berbagai tipe jomblo. Dimulai dari penampilan mereka dari luar sampai potensi mereka yang di dalam. Jomblo dibagi menjadi 4 tipe dasar. Dimana kita akan membahas satu per satu ke-4 tipe tersebut, dan mungkin kita dapat melihat adanya kesamaan atau kemiripan di diri kita masing-masing.
 
JOMBLUS UNDERDOGUS.

Yang pertama adalah jomblus underdogus, yang bisa kita sebut sebagai JOMBLO tipe-A. Jomblo ini cenderung mempunyai nasib buruk dalam segala hal yang berhubungan dengan perempuan. Ketika ada kesan bahwa nasibnya membaik jangan buru-buru bahagia sebab nasib baik tersebut akan berputar arah kembali menjadi buruk. Apa yang dimiliki jomblo ini sangat minim, baik kelebihan maupun kekurangan. Tidak ada yang terlalu menonjol dari jomblo ini, yang menyebabkan jarang bagi lawan jenis untuk melirik/melihat. Kunci jomblo ini dalam mencari pasangan adalah PeDe, karena hanya dengan percaya diri yang kuat.
Karakteristik dari jomblo ini adalah :
     * Penampilan pas pas-an
     * Aura negatif
     * Pribadi menarik
     * Harga diri rendah
 

JOMBLUS PLAYBOYNUS
    

Berikutnya adalah jomblus playboynus, atau kita sebut JOMBLO tipe-B. Jomblo tipe ini banyak ditemukan di sekitar kita. Jomblo yang terlihat nasibnya jauh lebih baik dari kita dalam hal mencari pasangan. Berbeda dengan tipe sebelumnya, jomblo ini mempunyai banyak kelebihan terutama bagian external. Seringkali kita bisa melihat jomblo tipe ini harus menyaring lawan jenis yang berdatangan kearahnya. Kelebihan jomblo ini dimulai dari penampilan fisik, kemampuan berbicara, kelihaian dalam pendekatan wanita dan lain-lain. Jomblo ini memilih untuk tidak mencari satu pasangan melainkan beragam pasangan. Meskipun terlihat serba hoky dari jomblo ini tetap mempunyai lemahan. Ketidakmampuan jomblo ini dalam membina hubungan one on one mungkin disebabkan karena kurangnya pengalaman berhubungan serius.
Karakteristik jomblo ini adalah :
     * Penampilan menarik
     * Aura magnetik
     * Jago speak-speak
     * Takut terikat
 

JOMBLUS MISTERIUS

Kepribadian yang tersembunyi adalah sifat jomblus misterrius yang paling menonjol. JOMBLO tipe-C ini sangat introvert. Dari 100% yang ada didalam pikirannya, hanya 10%-20% yang terekspresikan keluar. Jomblo ini kurang percaya diri hingga menyebabkan banyak sekali keinginan dan tekad yang tidak terlaksanakan. Sebenarnya potensi jomblo ini besar dan penampilan secara fisikpun tidak mengecewakan, namun jomblo ini tidak dapat menggunakan
kelebihan-kelebihannya sebagai alat komunikasi yang handal terhadap lawan jenis. Jomblo seperti ini cenderung menjadi pasangan yang setia karena perjuangan dan jerih payahnya untuk mendapatkan pasangan yang dia inginkan sangat berarti, sehingga beruntunglah untuk lawan jenis yang bisa melihat potensi jomblo yang satu ini.   
Karakteristik jomblo ini adalah :
     * Potensi tinggi
     * Alat komunikasi lemah
     * Pemburu jarak jauh
     * Plin plan
 

JOMBLUS DITOLAKTERUS

Sulit sebenarnya untuk menjelaskan secara detail tipe jomblus ditolaktrus ini. JOMBLO tipe-D ini adalah tipe jomblo yang paling unik namun bukan dalam arti positif. Perilaku dan motivesi jomblo ini sulit untuk diperhitungkan. Banyak sekali tindakan-tindakan yang tidak masuk akal yang dilakukan jomblo ini dalam mencari lawan jenis. Apa yang terlihat diluar kemungkinan itu juga yang akan terlihat dari dalam. Mungkin ini satu-satunya dimana kita bisa judge the book by its cover. Penampilannya yang kurang memadai menjadi suatu kelemahan yang mutlak dalam mencari pasangan. Namun jomblo ini tidak semuanya negatif, secara kepribadian dan sifat dasarnya jomblo ini adalah manusia yang jujur, setia dan baik hati.
Karakteristik jomblo ini adalah :
     * Penampilan tidak memadai
     * Invisible bagi lawan jenis
     * Perilaku tidak jelas
     * Lain dari yang lain
 

Sekian pelajaran tentang Jomblology, semoga ilmu ini dapat bermanfaat bagi para jomblo yang sedang mencari identitas dirinya…wakakakak :D

Opinion about PUSPIPTEK

May 10th, 2006 by ramadita

Tiga minggu sudah aku berkantor di kawasan BPPT PUSPIPTEK Serpong. Selain jarak dari rumah yang semakin dekat, lalu lintasnya pun relatif lancar. Dengan motor full speed kira-kira 40 menit, kalo bawa mobil ya  sekitar satu jam. Suasana kerja yang sumpek dengan kemacetan dan polusi untuk sementara bisa kutinggalkan. Di daerah ini terutama di lingkungan PUSPIPTEK udaranya segar sekali. Kalo Anda sempat jalan jalan pagi disini akan terasa mirip dengan hutan UI depok. Kita masih bisa hirup udara segar plus bau kulit kayu. Cool Man…

Masyarakat disini pagi-pagi sudah jalan kumpulkan kayu bakar untuk masak. So, jangan bayangin ada burger ato masakan ala cafe. Walau kantin di sini masaknya pakai kayu bakar, tapi rasanya enak & tidak kalah dengan kantin MAKSI atau LPEM. Harganya murah.

Tapi kadang kalo dipikir-pikir, kondisi yang nyaman seperti ini justru membuat orang jadi kurang kompetitif alias malas. Kalo tidak ada pressure hebat aku pun yakin dapat terbawa ritme alam disini. Rasanya sedih juga melihat para karyawan BPPT yang notabene berpendidikan tinggi dan lulusan luar negeri dengan fasilitas yang boleh dibilang tercanggih didunia tapi kurang berdaya dan diberdayakan. Padahal masyarakat bayar pajak lho…  Sayang banget kalo mesin2nya pada usang sebelum memberi manfaat.

Ini gara-gara politik kekuasaan, gara-gara musuhin Habibie, semua ide dia diberangus penguasa penggantinya. Padahal nggak semua idenya jelek dan satu lagi, semuanya didanai dari uang rakyat. Nah coba kalo pakai politik kemaslahatan-just in my imagination-yang baik kita lanjutkan bahkan perlu ditingkatkan, yang boros kita pangkas, yang korupsi dipenjara, yang gak bayar utang ditangkep. Lho…kok jadi serius nih….intinya sih pemerintah kudu mikirin teknologi juga, masak mau outsource terus ke Amerika, Jepang, India…idih malu-maluin. Dengan begitu bapak-bapak…eh mas-mas disini juga bisa lebih aktif…berdaya maksudnya. Orang disini pada jago-jago kok dicuekin. Wallahu’alam.

ps. mohon maaf sebelumnya bila anda atau ada sanak saudara yang bekerja di PUSPIPTEK or BPPT, bukan bermaksud merandahkan, this is just my humble opinion from my poor analysis.

Suzie Dalam Kenangan….

March 4th, 2006 by ramadita

Dua bulan setelah aku lulus dari Jurusan Teknik Mesin FTUI, sekitar bulan April 2002, aku mulai bekerja di perusahaan alat berat terbesar di negeri ini, United Tractors. Sebagai kandidat manajemen aku berkantor di Jl. Bekasi Raya no.22, daerah Cakung. Kalo dari rumahku di Tangerang jaraknya kira-kira 60 km sekali jalan, jadi perjalanan bolak balik yang kutempuh dalam satu hari kira-kira 120 km. Jarak itu aku tempuh dengan sepeda motor 2 tak, Suzuki Tornado, Suzie.

Dua bulan sudah aku ngantor di Cakung, suatu pagi dalam perjalanan di daerah Cipinang tiba-tiba engine meledak keras dan jamming, distart gak mau hidup. Aku sedikit bingung karena kunci-kunci untuk bongkar mesin tidak ada dan bengkel masih belum pada buka karena terlalu pagi. Akhirnya motor ku tuntun hingga beberapa ratus meter. Samar-samar terlihat ada bengkel vespa yang mulai buka. Tanpa basa-basi aku langsung bergegas & hampiri si empunya, kayaknya orang Jawa, usia sekitar 40 tahunan. “Mas, motorku meledak nih….. mau pinjam kunci-kunci boleh Mas?” tanyaku setengah mengemis. ”Silahkan aja De’..” jawabnya ramah. “Wah leganya….” ujarku dalam hati, seketika itu juga aku mengambil kunci-kunci yang sesuai dan mulai membongkar cylider head. Setelah cylinder head terurai….ternyata benar dugaanku, busi penyebabnya. Businya hancur dan sebagian serpihan keramiknya masuk ke dalam silinder…….”Parah Maan!!!”

Mau buru buru tapi sudah terlalu telat, so…pagi itu aku ngebengkel di pinggir jalan. Setelah semua serpihan keramik dibersihkan, aku hampiri si mas empunya bengkel. “Punya busi baru Mas?” tanyaku. “Ada De’..mau yang biasa atau yang bagus?” dia berbalik tanya. “Yang bagus aja Mas” jawabku cepat. Tak lama diapun mengambilkan busi sesuai dengan tipe yang kuminta dan meletakkannya disampingku. “Alhamdulillah….tinggal masang nih…”aku bersyukur karena walau dicoba dengan musibah tersebut tetapi Allah SWT memberi kemudahan-kemudahan yang manis bila diingat-ingat kembali.

Setelah semua komponen terpasang, “Bismillah…”aku start engine si Suzie dan hidup. Sebelum melanjutkan perjalanan ke kantor, tak lupa kuucapkan terima kasih dan memberi sejumlah uang untuk ongkos busi dan peminjaman alat, ”Tengkyu Mas”….Alhamdulillah…

Sekarang si Suzie sudah pindah tuan…dia sudah ditebus teman kakak sepupuku 3,4 juta perak. Harga itu lumayan banget karena tu’ motor hadiah Gebyar BCA taun 1999. Tanpa diduga masih di akhir tahun 2002, aku dapat motor lagi dari Gebyar BCA…Alhamdulillah-ini bukan iklan lho:)

karawaci mal, 22/03/06

"hmmm….latihan memori…"